SD MBS Prambanan menyelenggarakan Pengajian Wali Murid pada hari Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Masjid Al-Birr. Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama yang baik bersama paguyuban wali murid. Mengusung judul “Kudidik Anakku agar Sholeh, Cerdas, dan Bahagia”, kegiatan ini menghadirkan narasumber spesial, Drs. H. Purwono, M.A. (Syekh Poerji).

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ustaz Dimas selaku Kabag Kurikulum Ismuba. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas semangat wali murid yang telah berpartisipasi. Beliau juga menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi momen di bulan Syawal untuk saling memaafkan, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama dalam memahami karakter dan kebutuhan anak.

Selanjutnya, Bunda Daswati sebagai perwakilan wali murid menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia yang telah berkontribusi. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi wali murid, khususnya dalam membangun keluarga yang lebih baik.

Dalam penyampaian materinya, Syekh Poerji menjelaskan bahwa tugas orang tua dalam mendidik anak mencakup tiga aspek utama, yaitu kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional. Mendidik anak membutuhkan ilmu, kesabaran, serta keikhlasan. Orang tua diingatkan untuk menjaga ucapan, agar tidak melontarkan kata-kata negatif yang dapat melukai hati anak. Kenyamanan dan kebahagiaan anak dalam proses pendidikan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakternya.

Beliau juga mengajak para orang tua untuk terus berbenah diri, karena pendidikan terbaik dimulai dari keteladanan. Selain itu, penting menghadirkan lingkungan yang baik bagi anak, menjauhkan mereka dari pengaruh yang merusak, memberikan asupan yang halal dan bergizi, serta memastikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Setelah segala ikhtiar dilakukan, orang tua hendaknya bertawakal dan senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, Syekh Poerji menyampaikan pesan yang sarat makna, bahwa anak-anak zaman now tidak membutuhkan nasihat melalui “kata-kata”, tetapi membutuhkan keteladanan nyata.

Leave a Comment